Saat ini, walaupun secara konsep kita harus menggunakan pola berfikir ekosentris (holistik) dalam pengelolaan lingkungan hidup, namun dalam kenyataannya secara de facto kita masih mempraktekkan etika anthroposentris dalam pengelolaan sumberdaya alam (SDA) dan lingkungan . Etika anthroposentris, dimana posisi manusia berada di luar lingkungan hidupnya/ekosistem tempat hidupnya, telah memposisikan manusia untuk memanfaatkan SDA sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya tanpa menghiraukan kerusakan lingkungan/pencemaran yang ditimbulkannya. Penerapan etika ini secara empiris bisa menimbulkan dan meningkatkan kesejahteraan hidup, tetapi kondisi  lingkungan dibiarkan  menurun kualitasnya secara perlahan ataupun secara drastis yang menyebabkan daya dukung lingkungan terhadap pembangunan tidak terlanjutkan.

SDA-SDA beserta lingkungannya di planet bumi ini tidak berdiri sendiri tetapi mereka satu sama lain saling berhubungan timbal balik dan saling mempengaruhi melalui transaksi materi, energi dan informasi untuk menjalin suatu sistem kehidupan yang disebut sistem ekologi atau ekosistem yang kompleks. Pendayagunaan suatu SDA akan menimbulkan gangguan terhadap SDA-SDA lainnya melalui gangguan-gangguan terhadap siklus materi dan transformasi energi yang menghubungkan pertalian diantara mereka. Harapan kita gangguan terhadap ekosistem/lingkungan hidup dimana SDA itu berada tidak menimbulkan krisis lingkungan, tetapi gangguan tersebut masih memberi kesempatan kepada lingkungan hidup sebagai  suatu ekosistem untuk mencari keseimbangan yang baru sehingga daya lenting/daya dukung lingkungan masih bisa terlanjutkan untuk mendukung berbagai kegiatan pemanfaatan SDA yang dijalankan.

Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk dunia saat ini tentu saja menimbulkan terus meningkatnya kebutuhan untuk menopang keberlangsungan kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk tersebut dengan cara mengintensifkan industrialisasi di berbagai sektor. Implikasinya, manusia menuntut lingkungan lebih berat dengan cara mengeksploitasi SDA-SDA yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik terhadap renewable resources maupun non-renewable resources. Hal ini diperberat dengan faktor sosial budaya masyarakat dunia saat ini yang cenderung bersifat konsumtif /boros sumberdaya, hedonisme, tidak berperilaku hidup sederhana, bersifat materialistis sebagai efek ekternalitas dari perilaku sistem perekonomian kapitalis liberalisme.Kerusakan SDA berikut lingkungannya terjadi secara masif di berbagai belahan dunia ini, sehingga fenomena ini telah mengakibatkan rusaknya beragam sistem penyangga kehidupan, seperti hutan, dimana-mana yang menimbulkan goyangan terhadap tatanan siklus materi dan transformasi energi dalam suatu sistem kehidupan dalam sekala global.

Kerusakan hutan sebagai salah satu sistem penyangga kehidupan telah menyebabkan berfluktuasinya rejim debit air sungai (banjir pada saat musim penghujan dan kekeringan pada saat musim kemarau); erosi tanah yang  menurunkan produktivitas lahan dan menimbulkan sedimentasi di hilir,diantaranya mengakibatkan pendangkalan waduk yang memperpendek umur pakainya; mengurangi penyerapan karbondioksida (CO2) dan produksi oksigen (O2); mengurangi produksi karbohidrat (sumber energi bagi herbivora) yang berarti mengurangi sumber energi bagi konsumer.  Fenomena ini akan mengurangi keanekaragaman hayati (gen, jenis, ekosistem) yang penting untuk memelihara kemantapan suatu ekosistem terhadap gangguan dan ikut menjamin tetap tersedianya pilihan SDA untuk dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Kondisi ini diperberat dengan praktek-praktek ekstraksi SDA yang kurang ramah lingkungan (pembakaran lahan, konversi mangrove menjadi tambak, konversi hutan menjadi lahan pertanian,dll) dan meningkatnya laju industrialisasi telah mengakibatkan global warming yang memicu terjadinya perobahan iklim global yang mengancam kelestarian SDA-SDA penunjang kehidupan berbagai mahluk hidup. Terancamnya kelestarian SDA-SDA tersebut akan menyebabkan ketidakberhasilan program pembangunan berkelanjutan (sustainable development), karena SDA-SDA yang ada merupakan modal utama pembangunan. Fenomena tersebut akan meningkatkan tingkat kemiskinan penduduk yang pada gilirannya akan lebih meningkatkan kemorosotan/ kerusakan SDA. Di pihak lain, tata kelola kelembagaan pengurusan SDA belum efektif, begitu pula peraturan perundangan yang belum memadai  dan penegakan hukum terhadap pelanggaran dalam praktek pengelolaan SDA masih lemah, sehingga azas keadilan dan pemerataan dalam pendayagunaan sumberdaya alam belum terwujud. Dengan demikian, hal tersebut akan mengancam terhadap ketersediaan pangan, energi dan obat-obatan bagi masyarakat.

Dengan adanya perencanaan sejak awal dari pengelolaan lingkungan, seperti harus disunsunnya RPPLH (Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup) dalam pemanfaatan SDA dan dilakukannya KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) untuk memastikan diterapkannya prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam program pembangunan, juga sebagai dasar penyusunan tata ruang wilayah, maka diharapkan pengelolaan pembangunan dapat merupakan penopang pembangunan untuk meningkatkan nilai SDA dan meningkatkan manfaat lingkungan untuk kesejahteraan penduduk dalam kondisi lingkungan yang semakin baik.

Download paper : paper pembangunan dan pengelolaan pembangunan

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.